Kompetensi Kepemimpinan Global Orang Indonesia

kompetensi

kompetensi

Oleh: Imam Faisal Hamzah

Kerja sama dalam dunia internasional, menuntut pula adanya pengiriman pekerja ke negara lain, misalnya dalam pengiriman ekspatriat ke negara lain. Hal ini seperti yang dilakukan Indonesia terhadap mitra-mitra kerja samanya, seperti Cina dan Singapura. Keragaman budaya tentu menjadi tantangan bagi pekerja ketika bekerja di luar negara asalnya. Persaingan maupun perselisihan dapat terjadi akibat terdaptnya nilai kebudayaan yang berbeda antara satu negara dengan negara lainnya.

Apalagi menjelang diberlakukannya AFTA pada 2015 mendatang, maka bukan tidak mungkin persaingan dalam bidang ekonomi akan lebih terasa. Sehingga dibutuhkan kompetensi-kompetensi global dalam persaingan tersebut yang mampu bekerja dalam nuansa lintas budaya. Meskipun selama ini, Indonesia telah terbiasa hidup dengan berbagai etnis, bahasa, maupun agama telah banyak menghadapi kenyataan keragaman ini. Namun, bagaimana orang Indonesia sendiri dapat menghadapi tantangan keragaman antar negara dengan nilai kebudayaan yang lebih kompleks?

Penelitian yang dilakukan oleh Panggabean, Murniati, dan Tjitra (2013) berusaha mengungkapkan bagaimana profil kerja orang Indonesia di mata rekan kerjanya dari Cina dan Singapura. Penelitian kualitatif grounded theory terhadap 47 orang Indonesia, 26 orang Cina, dan 8 orang Singapura menyimpulkan bahwa orang Indonesia yang berkerja dengan orang Cina dan Singapura merupakan sosok pemimpin yang mampu menumbuhkan suasana kekeluargaan. Sosok pemimpin yang kebapakan merupakan efek dari adanya rasa kekeluargaan dalam lingkungan kerja.

Sosok kebapakan ini muncul dari kejujuran, tanggung jawab, peduli, dan pemaaf. Sosok pekerja Indonesia pun selalu mengedepankan perilaku konsultatif dan pemberian dukungan. Orang Indonesia selalu terbuka untuk membicarakan permasalahan kerja yang dialami oleh rekan kerjanya. Mungkin ini merupakan efek dari adanya rasa kekeluargaan yang dibangun oleh orang Indonesia dalam manajerial, meskipun berada di negara lain.

Meskipun begitu, potensi kerja orang Indonesia di mata internasional tetap menghadapi tantangan perbedaan budaya. Hal ini tentu dipicu oleh adanya perbedaan nilai budaya yang berbeda satu sama lain. Misalnya dalam mengartikan kerja itu sendiri. Orang Indonesia, mengartikan bahwa kerja merupakan bagian kecil dari kehidupan mereka, karena mereka masih memiliki kehidupan di luar kerja yang menjadi bagian dari dirinya, seperti keluarga. Sedangkan orang Cina, menganggap bahwa kerja merupakan kehidupan itu sendiri, sehingga tidak aneh jika orang Cina merupakan orang yang pekerja keras.

Di sisi lain, orang Singapura yang kompetitif menganggap bahwa orang Indonesia memiliki daya saing yang mengagumkan tetapi juga memiliki persaingan yang bersifat destruktif atau “mau menang sendiri”. Mungkin bagi orang Singapura sendiri, hal ini disebabkan adanya nilai Kiasu yang menekankan rasa takut akan kehilangan, dalam hal ini tentu kehilangan posisinya dalam persaingan. Meskipun begitu, hal ini tentu menjadi persoalan yang sangat potensial dalam memunculkan friksi dalam lingkungan kerja.

Penelitian yang dibangun berdasarkan konsep teoritis kepekaan antar budaya atau Intercultural Sensitivity (ICS) ini menampilkan konsep budaya masing-masing negara mengenai harmonisasi yang dapat dimaknai berbeda, seperti Indonesia (dalam hal ini Jawa)  yang mengutamakan harmonisasi melalui konsep “Rasa” dan Cina yang mengutamakan harmonisasi melalui mian-zi (muka), dan guanxi (hubungan)  yang didasarkan ajaran konfusius.

Sayangnya penelitian ini masih didominasi oleh pengaruh nilai-nilai Cina di masing-masing negara. Meskipun dilakukan pada orang Cina, Singapura, dan Indonesia, tetapi ketiga negara tersebut dalam hal sampel masih didominasi oleh orang Cina. Misalnya di Indonesia, peneliti merekrut 22 pribumi Indonesia dan 25 Tionghoa Indonesia. Bisa dikatakan belum sepenuhnya mewakili sifat khas orang Indonesia itu sendiri. Di Singapura sendiri, nilai-nilai Cina sangat kental dari dominasi masyarakatnya.

Meskipun begitu, interaksi terhadap lingkungan di masing-masing negara telah memberikan corak yang terbawa dari nilai yang dianut dari negaranya. Sehingga, penelitian ini menjadi informasi yang sangat menarik untuk mengembagkan kompetensi global orang Indonesia dalam persaingan dalam dunia ekonomi ke depan. Kompetensi yang didasarkan pada sesitivitas lintas budaya dalam berinteraksi dengan para pekerja di negara lain dengan nilai kebudayaan yang tentunya berbeda.

 

Sumber:

Panggabean, H., Murniati, J., dan Tjitra, H. (2013). Profiling intercultural competence of indonesians in Asian workgroups. International Journal of Intercultural Relations, 37, 86–98.