Penerapan Metode Pembelajaran Orang Dewasa (Andragogi) di Dalam Pelatihan

“Saya memutuskan untuk tidak lagi menyelenggarakan pelatihan di perusahan karena tidak bisa melihat perubahan pengetahuan dan keterampilan dari peserta pelatihan,”

Ucap seorang CEO dari sebuah organisasi besar.

Ucapan dari CEO di atas sering kali terjadi di beberapa organisasi sehingga membuat keputusasaan bagi manajemen organisasi dan berkesimpulan, pelatihan hanyalah merupakan biaya yang menjadi beban organisasi dibandingkan sebuah investasi. Dalam menjalankan sebuah pelatihan, penggunaan metodologi pembelajaran yang sesuai akan sangat membantu efektivitas pembelajaran dari peserta pelatihan. Cara orang dewasa tidak dapat disamakan dengan cara pembelajaran di sekolah maupun universitas. Daya tahan dan penyerapan pengetahuan sangatlah berbeda sehingga tidak dapat disamakan.

training

Pembelajaran dan pelatihan yang diberikan ke setiap individu, khususnya orang dewasa perlu memperhatikan beberapa faktor yang dapat membantu setiap individu tertarik dan antusias dalam mengikuti pelatihan yang diberikan. Berikut ini sembilan faktor yang mendorong setiap individu agar antusias dalam mengikuti kegiatan pelatihan dan menyerap ilmu yang disampaikan oleh fasilitator pelatihan.

Faktor Pertama adalah Space Learning, yaitu pemberian jeda pada saat, penyampaian materi ke setiap individu. Suatu pembelajaran perlu diberikan jeda antara suatu bagian dan bagian lainnya untuk memberikan waktu bagi otak untuk menyerap materi atau informasi yang diberikan.

Faktor kedua adalah Active Learning. Pada saat memberikan pembelajaran ke setiap individu atau kelompok, diperlukan adanya komunikasi dua arah antara fasilitator pelatihan dengan peserta pelatihan. Peserta akan meningkatkan daya belajar mereka ketika dilibatkan secara aktif dalam pelatihan.

Faktor ketiga adalah pemberian Feedback terhadap materi yang sedang dibahas ke peserta atau sebaliknya. Fasilitator pelatihan harus mengganggap dirinya bukan sebagai seseorang yang mengetahui segala sesuatu terkait materi yang diberikan, melainkan harus bisa menerima masukan dari setiap peserta terkait materi yang disampaikan.

Faktor keempat adalah Overlearning  yaitu pengulasan kembali terhadap materi yang telah disampaikan. Fasilitator pelatihan harus melakukan penguasaan materi yang telah disampaikan secara berkala setiap menyelesaikan suatu pembahasan. Hal ini akan meningkatkan daya serap dan daya ingat peserta pelatihan terhadap materi yang telah disampaikan.

Faktor kelima yaitu Primacy and Recency adalah pemberian rangkuman pelatihan saat pelatihan. Peserta pelatihan khususnya orang dewasa cenderung hanya mengingat materi yang disampaikan di awal dan akhir pelatihan. Oleh karena itu materi yang bersifat penting sebaiknya ditempatkan di bagian awal dan bagian akhir pelatihan.

Faktor ke enam adalah Reinforcemen, yaitu pemberikan dukungan yang positif, pujian atau motivasi terhadap respons apa pun yang diberikan oleh peserta pelatihan terhadap materi yang dibahas.

Faktor ketujuh yaitu Meaningful material, yakni pembelajar dewasa cenderung akan secara langsung membandingkan apa yang mereka pelajari dengan pengalaman yang mereka miliki dan bertanya kepada diri sendiri tentang manfaat yang dapat mereka peroleh dari pelatihan yang didapatkan saat itu. Sangatlah penting untuk dapat menunjukkan manfaat dari materi yang disampaikan terhadap pekerjaan mereka.

Faktor kedelapan yaitu Multiple Sense of Learning, yaitu penggunaan berbagai cara belajar (visual, audio, dan kinestetik) yang mengakomodasi berbagai preferensi cara belajar orang dewasa. Fasilitator pelatihan perlu memperhatikan tampilan materi yang diberikan (visual), penggunaan volume, intonasi, pelafalan yang  baik (audio) dan penggunaan beragam aktivitas  berupa simulasi peran atau praktik (kinestetik) dalam pelatihan.

Faktor kesembilan yaitu Transfer of Learning yaitu pemberian informasi yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi sehari – hari, sehingga konsep yang diberikan dapat diaplikasikan dengan mudah.

Dengan melakukan pelatihan yang berlandaskan kesembilan faktor tersebut, organisasi telah menciptakan kondisi pelatihan yang menunjang tercipatannya efektivitas dari pelatihan tersebut dan niscaya memperoleh manfaat yang maksimal atau timbal balik yang positif bagi pengembangan dan peningkatan kinerja individu dan organisasi.