Tidak Perlu Buru-Buru Menyekolahkan Anak

siswa-sd
Sebuah penelitian dari Stanford University menunjukkan bahwa anak-anak yang ditunda masuk sekolah formal hingga satu tahun menunjukkan kesehatan mental dalam mengendalikan diri yang lebih baik.

Penelitian yang dilakukan oleh Thomas Dee dan Henrik Sievertsen ini menyampaikan lebih lanjut mengenai kesehatan mental yang terbentuk ketika orang tua tidak terburu-buru memasukkan anaknya ke sekolah formal. Adalah tingkat hiperaktivitas* anak yang juga bisa ditekan, sehingga anak lebih mampu fokus dan mengendalikan dirinya sendiri.

“Menunda anak masuk sekolah satu tahun dapat mengurangi tingkat hiperaktivitas dan meningkatkan fokus perhatian anak hingga 73 persen. Hal ini tampak pada rata-rata anak yang berusia 11 tahun,” kata Dee dan Sievertsen dalam penelitiannya.

Negara yang dinilai sistem pendidikannya sudah mumpuni seperti Finlandia mengatur usia masuk sekolah dasar di usia 7 tahun. Aturan yang sama juga berlaku di Indonesia.

Kenyataan yang terjadi di Indonesia adalah setiap tahun ajaran baru, masih banyak orangtua yang protes kepada Panitia Penerimaan Siswa Baru karena anaknya tidak bisa diterima di SD dengan alasan usia kurang dari 7 tahun. Mereka berdalih dengan alasan anaknya sudah mampu membaca dan menulis, dan sering luput untuk mempertimbangkan kesiapan mental dan psikologis anak.

Secara teori perkembangan anak bahwa pada usia 5-6 tahun, anak masih dalam tahap mengembangkan keterampilan sosial – mengenal lingkungan sekitar dan motorik atau gerak. Sedangkan untuk mulai belajar di kelas 1 SD anak harus sudah bisa serius – fokus mengikuti pelajaran dalam waktu yang cukup lama dan dalam ruang yang terbatas, dan secara fisik usia Anak dianggap paling siap adalah di usia 7 tahun.

Seperti kita sadari, bahwa sekolah formal seperti di tingkat SD sangat berbeda jauh dengan sistem di taman kanak-kanak. Di jenjang SD, anak tidak lagi mendapat perhatian sebanyak ketika ia di TK yang masih sangat tergantung dengan guru-gurunya. Di sekolah dasar, anak dituntut untuk lebih mandiri dan bertanggungjawab dengan waktu belajar lebih lama dan materi pembelajaran yang jauh lebih beragam.

Selain itu, lingkungan sekolah yang jauh lebih luas dan lebih beragam juga akan menjadi faktor penting yang menuntut kesiapan mental psikologis anak, jadi tidak melulu sekedar bisa membaca dan menulis saja.

Secara teori perkembangan, usia sangat menentukan tingkat kognisi dan karakter setiap anak. Sehingga jika ada orang tua memutuskan memilih memasukkan anaknya ke sekolah formal lebih awal, dikhawatirkan akan mengganggu terhadap pembentukan karakter anak sendiri, karena usia tersebut  karakternya belum terbentuk. Pembentukan karakternya tidak mewakili keluarganya – banyak campur tangan di luar keluarganya yang tentu saja akan menjadi berbeda.

Dr. Amanda Mergler, psikologis dari School of Early Childhood, Queensand University of Technology  meneliti 224.000 sekolah selama empat tahun.

Sistem pendidikan di Australia mengatur bahwa anak sudah dapat masuk sekolah formal di usia lima tahun. Sementara itu, Megler menemukan bahwa orang tua di Australia mempunyai kecenderungan menahan anaknya sekolah sampai dengan usia 6 tahun. Mulai dari tahun 2010 sampai dengan 2014 ia menemukan bahwa kecenderungan orang tua menunda anaknya bersekolah sampai usia enam tahun tersebut meningkat dari 1,5 persen menjadi 2,9 persen.

Menurut Megler, peningkatan tersebut berdasarkan pada tingkat kecemasan orang tua terhadap tekanan pada anak-anaknya di tahun pertama mereka sekolah. Ia juga menyampaikan bahwa mengirim anak-anak ke sekolah secara prematur dapat menjadi salah satu penyebab kegagalan anak di masa depan.

“Jika kita mengirim anak-anak yang terlalu muda untuk mulai bersekolah dan menuntut mereka untuk berperilaku dan melakukan hal-hal yang sebenarnya belum mereka bisa, itu sama saja membentuk mereka menjadi’ anak-anak bermasalah’,” kata Megler.

Pesan untuk para orang tua, jangan terburu – buru memasukan anak untuk bersekolah, jangan mengandalkan keinginan tetapi perhatikan juga kesiapan anak, kesiapan secara fisik – psikologis dan mentalnya. Semakin anak siap secara fisik dan mentalnya maka semakin mudah untuk menerima beragam mata pelajaran di sekolah dasar. Jika kesiapan itu belum ada maka dikhawatirkan anak akan “kelelahan”, bukan motivasi maupun prestasi yang didapat tetapi malah menjadi beban mental bagi anak tersebut, yang pada akhirnya menyulitkan kembali Anda sebagai orang tua.

Sumber: tirto.id, tribunnews.com, google.com

_________________________________________________________________________________

*Hiperaktivitas adalah perilaku yang ditandai oleh tingginya tingkat aktivitas dan kurangnya istirahat. Perilaku tersebut biasanya diakui sebagai masalah pada anak ketika dia diharapkan untuk duduk dan diam untuk jangka waktu yang lama, seperti dalam lingkungan kelas. Lihat juga ADHD.