Sikap Positif

Napoleon Hill Berpendapat bahwa yang disebut dengan sikap mental positif adalah mencakup segala hal yang plus yang dinyatakan lewat kata-kata, seperti keyakinan, integritas, harapan, optimisme, keberanian, inisiatif, kedermawanan, toleransi, kebaikan, dan berpikir sehat.

It is most often comprised of the “plus” characteristics symbolized by such words as faith, integrity, hope, optimism, courage, initiative, generosity, tolerance, tact, kindliness, and good common sense. (Hill & Stone, 1994)

Sikap positif hanya bisa diwujudkan ketika kita mampu membebaskan diri dari segala kedengkian. Tidak ada dendam dan kebencian. Pemimpin yang berkualitas selalu melihat orang lain sebagai keberkahan. Mereka sadar
bahwa kehadiran orang lain adalah jembatan untuk mencapai puncak keberhasilan. Tanpa kehadiran orang lain
yang dirasakannya kesepian yang mencekam. Oleh karena itu, mereka akan membuang segala sikap dengki, dendam, dan benci yang akan menutup pintu-pintu keberkahan. Kedengkian akan merusak bangunan kebersamaan yang justru sangat dibutuhkan untuk meraih cita-citanya. Dalam hal ini, Rasulullah saw. bersabda

Jauhilah olehmu segala bentuk kedengkian, sebab kedengkian itu memakan segala kebaikan sama seperti api memakan kayu bakar yang kering.” (Lihat Bulughul Maram no. 1507)

Maka dari itu, dia membuka kebijaksanaan keterbukaan (open door policy). Dari pintu hatinya memancar kehangatan cinta yang membuat orang lain merasa teduh dalam dekapannya. Di hatinya tidak ada tempat untuk rombongan kebencian dan dendam karena seluruh kamar jiwanya telah penuh dengan cinta.

Pemimpin sejati menyadari bahwa hidupnya tidak sendirian. Dia bukan alien atau makhluk planet yang asing dan terasing. Jauh dalam lubuk hatinya ada sebuah sikap bahwa aku sangat mencintai orang lain dan karena itu aku
sangat ingin melayani, memuliakan, dan menempatkannya sebagai manusia-manusia terhormat. Kebahagiaannya yang paling sejati ketika dirinya mampu memberi makna bagi orang lain. Bagi dirinya berlaku sebuah motto, “Tidak ada kuda yang binal, kecuali kusir yang bodoh.” Di tangan se rang kusir yang berpengalaman, betapapun liarnya seekor kuda, pasti dapat dikendalikannya.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Harvard University diperoleh data bahwa 85 % kunci kepribadian para manajer yang sukses ditentukan oleh sikap (attitude). Bahkan, American Business Concern melaporkan bahwa
94% para top executive dari 500 Fortune Corporation (Perusahaan yang berhasil) yang sukses ditentukan oleh sikapnya dibandingkan kemampuan lainnya.

Sikap yang luhur telah mendorong dirinya untuk terus menerus mencari nilai tambah dalam kehidupannya.
Mereka sadar bahwa hidup penuh dengan persaingan dan tantangan. Bila tidak mencari nilai lebih dari kehidupannya, niscaya dia akan dikalahkan kehidupan. Begitu banyak sarjana yang diwisuda setiap tahun dan pada hakikatnya setiap angkatan adalah para pemain lapangan yang harus siap bertanding. Bila masing-masing mempunyai teknik dan keterampilan yang sama, lantas apa yang akan dia banggakan ketika akan melamar untuk bekerja? Itulah sebabnya para pribadi unggul akan selalu menambah keterampilan, tidak puas dengan apa yang dia terima. Rasa syukur dia tumpahkan untuk mengasah apa yang telah diperoleh sehingga semakin tajam dan semakin tajam lagi. Bagi dirinya rasa syukur diterjemahkannya sebagai kemampuan untuk membalas lebih. Dia selalu merasa kurang untuk berbuat baik. Itulah yang disebut dengan rasa syukur sebagaimana keadaan Rasulullah yang dikisahkan oleh Aisyah ra. “Nabi saw. bangun di tengah malam. Ia terus-menerus beribadah sambil tidak henti-hentinya menangis. Ketika sahabat bertanya mengapa Nabi harus beribadah seperti itu? Bukankah
Allah telah mengampuni seluruh dosanya, yang dahulu maupun yang kemudian. Nabi saw. berkata, “Afalan
akun’abdan syakura”, Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur?

Inilah sikap rendah hati, sikap mental positif yang mendorong untuk berbuat lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih
berkualitas. Thomas Jefferson berkata,

“Nothing can stop the man with the right mental attitude from achieving his good; and nothing on earth can help the man with the wrongmental attitude.”