Profesional dan Profesionalisme

Istilah profesional sudah sangat popular dan sering sekali diucapkan oleh banyak orang dengan pemahaman yang berbeda-beda. Demikian pula banyak orang yang merasa dirinya profesional atau ingin disebut sebagai seorang profesional asalkan sebutan itu tidak dikaitkan dengan hal-hal negatif misalnya profesi yang melanggar hukum misalnya pembunuh, perampok atau PSK.

Sebutan “profesional” aslinya diberikan kepada orang yang menjalankan sebuah profesi tertentu secara purna waktu sebagai sumber nafkahnya, misalnya petinju dan penyanyi. Dalam konteks ini sebutan profesional adalah sebagai “lawan” dari sebutan amatir. Predikat profesional kemudian dipakai untuk merujuk sekelompok orang yang
menjalankan profesi tertentu yang hanya bisa dilakukan setelah melalui pendidikan yang tinggi dan lama misalnya dokter, notaris, arsitek dan pengacara. Akhirnya, pekerja/pegawai yang menduduki posisi kunci dalam perusahaan dan institusi pemerintahan juga dikelompokkan sebagai tenaga profesional, misalnya para eksekutif, manager dan tenaga spesialis yang sering pula disebut tenaga fungsional. Tenaga teknisi dan operator terampil/ahli juga dimasukan dalam kelompok itu. Sayangnya, sebutan profesional untuk semua kelompok yang disebut diatas LEBIH DIKAITKAN DENGAN TINGKATAN KEAHLIAN TEKNIS yang mereka miliki kuasai yang dianggap sangat “mumpuni”.

Sejak tiga puluh tahun terakhir, para profesional sendiri, para pakar manajemen di negara-negara industri maju dan para eksekutif puncak dunia telah sepakat bahwa ada beberapa syarat atau kriteria lain yang lebih penting bagi seseorang untuk bisa disebut sebagai seorang profesional.
Salah seorang yang dianggap sebagai guru oleh para “profesional” dalam bidang konsultansi adalah David Maester yang Guru Besar Harvard Business School yang juga pimpinan lembaga konsultan yang menjadi penasihat dan pelatih bagi biro-biro konsultansi besar di Negara Barat seperti McKinsey, Booz Allen, dan lain-lain. Menurut Prof. David Maester, syarat-syarat atau kriteria profesional justru lebih banyak terkait dengan sikap, perilaku, dan integritas yang ditunjukkan oleh mereka yang menyebut diri profesional itu. Kriteria tersebut antara lain adalah:

  1. Bila ia telah setuju dan sepakat untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya maka ia akan berpegang pada prinsip 3 C” yaitu; “Care”, “Concerned” dan “Committed”. Sikap 3 C tersebut direfleksikan dalam tindakan dan perilaku butir-butir, sampai 5 dibawah ini. Seorang “profesional yang sangat “mumpuni” ilmu dan kemampuannya akan tidak dianggap sebagai profesional bila ia tidak menunjukkan sikap 3 C” tersebut diatas.
  2. Selalu menjaga reputasi diri, profesi dan institusinya dengan cara:
    • Berusaha mencapai hasil terbaik dalam bidang kerjanya
    • Selalu melakukan “tinjau ulang” atas ilmu dan kemampuan dan selalu berusaha meningkatkannya
    • Berpegang teguh kepada kode etik profesi dan berada dalam koridor undang-undang, hukum dan aturan lain yang berlaku.
  3. Bersikap dan berperilaku “profesional”;ramah, hormat kepada mereka yang harus di “layani” atau berurusan dendannya sehingga menimbulkan rasa hormat (respek) mereka kepadanya.
  4. Memiliki rasa percaya diri yang tinggi sehingga untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi (misalnya mendapat promosi) ia akan lebih mengandalkan pada “track record” kinerja dan reputasi dari pada “main politik” yaitu mencari bantuan kelompok atau “sponsor”
  5. Tidak akan memberitakan hal negatif tentang organisasi, lembaga atau perusahaan tempat ia bekerja sebelumnya walaupun ia sudah tidak lagi berada di institusi tersebut karena alasan apapun. Pepatah yang dikenal dalam bahasa Inggris adalah; “never burn the bridge that you just cross” (jangan menghancurkan jembatan yang anda baru seberangi (karena siapa tahu anda memerlukannya lagi).

Mari kita kembangkan profesionalisme dalam arti sebenarnya!

 

Sumber: Profesional Yang Beretika Berbudaya dan Bertimbang Rasa, DR. Ahmad S. Ruky